Pada tanggal 24-30 November 2018, Agroteknologi UMY kembali mengirimkan 2 mahasiswa dalam acara Winter School In Yamagata University, yaitu Arum Wahyu Ningsih dan Hanifah Amini. Acara winter school ini terdiri dari berbagai kegiatan seperti koferensi dan wisata budaya jepang. Pada hari pertama, kegiatan yang dilakukan adalah wisata ke gunung Haguro bersama beberapa delegasi lain yang berasal dari perguruan tinggi di Indonesia beserta panitia penyelenggara. Kemudian di hari ke-2, dilakukan kegiatan persentasi tentang penelitian-penelitian yang dilakukan mahasiswa Jepang maupun mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi program Doktoral dari Yamagata University.

Arum menuturkan, bahwa kegiatan yang wajib di ikuti adalah perkenalan yang menjelaskan tentang kegiatan yang telah diikuti dan rencana penelitian yang akan dilakukan. Kemudian, konferensi internasional yang melibatkan beberapa peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam bentuk poster yang dihadiri beberapa reviewer dan dilanjutkan tanya jawab terhadap hasil penelitian yang dipresentasikan sambung Arum. Arum berharap agar kegiatan seperti ini terus berjalan, dan siapapun dapat mencoba turut berpartisipasi. ”Kita harus mau mencoba untuk mengikuti apapun kegiatan itu, dan yang pailing penting adalah komunikasi. Satu hal yang harus dipertimbangkan adalah persiapan untuk kegiatan yang akan dilakukan, misalkan ada kegiatan presentasi hasil penelitian, maka harus dipersiapkan semaksimal mungkin baik dalam masalah waktu maupun topik yang ingin kita presentasikan”.

Sedangkan Hanifah menuturkan bahwa kegiatan yang sangat mengesankan adalah kegiatan kunjungan Laboratorium di Lingkungan Yamagata University. Fasilitas laboratorium disana sangat lengkap dan tertata rapi. Sehingga, ia dapat belajar mengenaikemajuan teknologi yang dapat digunakan untuk penelitian. Hal lain yang membuat Haniafah terkesan adalah kegiatan presentasi hasil penelitian “kita harus menguasai komunikasi bahasa Inggris, terutama dalam menyampaikan presentasi tersebut. Karena komunikasi menggunakan bahasa Inggris disana cukup sulit, meskipun kita sudah mencoba menggunakan bahasa Inggris yang sederhana”, sambung Hanifah.