Bertani Bersama Suku Kokoda, Surga Kecil Yang Jatuh Ke Bumi

September 21, 2016 oleh : superadmin-ag

Laporan Afif Zukhrofie

Kokoda adalah salah satu suku diantara banyaknya suku  yang ada di bumi cendrawasih yaitu di wilayah papua barat. Salah satunya berada di kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong,  Propinsi Papua Barat atau penduduk kokoda menyebutnya dengan kampung Tiwatori.

Masyarakat suku kokoda memiliki kebiasaan berburu dan meramu untuk mencukupi kebutuhan pangannya. Masyarakat suku kokoda biasa mencari bahan makanan di hutan dan di laut yang ada di wilayah kabupaten sorong. Suku kokoda masih sangat tergantung pada alam untuk mencukupi kebutuhan pangannya.

Seiring pesatnya pembangunan di kabupaten sorong menjadikan terkikisnya luasan hutan yang ada. Hal ini menyebabkan degradasi ketersedian pangan dalam hutan yang berdampak pula pada sulitnya masyarakat untuk mendapatkan bahan makanan.

Kokoda menjadi salah satu tempat Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2016, Tim Mahardika Bakti Nusantara (MBN) yang dikoordinatori Afif Zukhofi, Mahasiswa Fakultas Pertanian UMY 2013.

Pada 18-20 September 2016 kemarin dilakukan kegiatan pembersihan dan pengolahan lahan oleh masyarakat kokoda sebagai salah satu langkah masivikasi gerakan bertani. Kegiatan tersebut didampingi oleh aggotaTim MBN yang berasal dari Fakultas Pertaian UMY.

Kegiatan diikuti oleh sekitar 30 pace-pace, paggilan bapak suku kokoda, yang menggarap sekitar 3000 . Pengolahan lahan yang dilakukan adalah pembuatan bedengan.

Zukhro menuturkan kegiatan budidaya diproyeksikan untuk pria suku Kokoda, sedangkan wanitanya dilatih pengelolaan hasil. “Penyiapan lahan ini dilakukan oleh bapak-bapak suku kokoda sedangkan penanaman, perawatan, dan pegelolaan hasil akan diproyeksikan bagi ibu-ibu suku Kokoda yang tergabung dalam PKK kampung Warmon”.

Pace-pace Kokoda sangat bersemangat dalam melakukan kegiatan ini meskipun ada beberapa pace yang masih belum familier dengan cangkul, karena itu beberapa dari mereka memilih menggunaka skop  untuk mengolah lahan. “Saya suka pakai skop dari pada pakai cangkul, pakai cangkul sulit, lebih mudah pakai skop boleh” ujar Irwan, warga suku Kokoda.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan pertanian yang memiliki misi besar untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat Kokoda tentang pentingnya kegiatan bertani karena alam tidak selamanya dapat mencukupi kebutuhan pangan.

Menurut Syamsudin, Kepala Kampung Warmon Kokoda mengatakan “Masyarakat kokoda tidak akan pernah maju dan akan selamanya seperti ini jika mereka tidak mau berubah, semua orang tidak akan mampu merubahnya kecuali mereka sendiri yang merubahnya”.

Program ini diharapkan mampu menjadi katalisator perubahan menuju masyarakat yang memiliki kemandirian pangan. “kokoda ingin terbang, itulah kredo masyarakat kokoda. Program ini sangatlah bagus dan bermanfaat dan kami menyambut baik hal itu.  Program ini diharapkan mampu memjadi salah satu pemicu masyarakat kokoda untuk terbang lebih cepat”, tegas Jamal, salah satu Raja Suku Kokoda.

“Tanah papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Suburnya tanah papua memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor pertanian. Petani papua tiak boleh kalah dengan petani jawa. Petani papua harus menanam untuk melawan, yaitu melawan kemiskinan, melawan ketidakadilan, melawan  eksklusifitas, dan melawan stigma negatif  yang diterima suku Kokoda” Pungkas Zukhro.

Sumber : https://loperaufklarung.wordpress.com/2016/09/21/bertani-bersama-suku-kokoda-surga-kecil-yang-jatuh-ke-bumi/