Pada Jum’at (15/3), salah satu Dosen Agroteknologi UMY menjadi pembicara dalam “Public Lecture Comparative Studies Between Colombia & Indonesia on Land Tenure and Ownership”. Kegiatan ini lebih menyoroti terhadap bidang pertanian dan perkebunan terutama pada aspek pengelolaannya serta penanggulangan bahaya kebakaran lahan pertanian dan perkebunan dari segi akademisi dan instansi pemerintah yang terkait.

Petani di Indonesia sering melakukan pembukaan lahan yang akan digunakan budidaya terutama pada sistem pertanian tradisonal yang ada di wilayah penelitian. Misalkan pada sistem lahan berpindah. Namun, seiring berjalan waktu dan banyaknya investor yang mulai membuka lahan khususnya yang dialih fungsikan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit, tanpa memperhatikan alam disekitanya baik itu tumbuhan endemik maupun hewan endemik yang ada di sana. “Jika tidak dilakukan pencegahan dari sekarang kemungkinan besar banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahui tanaman dan hewan endemik yang ada di Mahakam” tutup Kristina.

“Setiap tahun di Indonesia sering terjadi kebaran hutan. Dan yang paling sering terjadi berada diwilayah Riau” papar Eko Priyono. Kebakaran hutan dan lahan sering terjadi dikarekan kurangnya koordinasi terhapak pihak-pihak terkait. Baik itu dari instansi pemerintah maupun dari pihak pengelola yang terkait, yaitu yang menggunakan lahan tersebut. Dari tahun 2016 sampai 2017 faktor yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan merupakan aktifitas pembukaan lahan yang akan digunakan sebagai lahan budidaya tanaman perkebunan tutup Eko Priyono Purnomo, M.Res., Ph.D.

“Dalam suatu komunitas itu terdapat keanekaragaman interaksi antar individu baik itu dari faktor biotik maupun faktor abiotiknya” Papar Dina Wahyu Trisnawati, S.P., M. Agr., Ph.D. pada saat pembukaan diskusi. Pada dasarnya interaksi itu terjadi dari produksen dan dilanjutkan dengan konsumen tingkat 1 dan seterusnya hingga terjadi daur energi. Daur energi ini dapat kita gambarkan sebagai mana yang terjadi dikawasan hutan, disana terjadi daur energi yang komplek. Baik itu antara tumbuhan, hewan yang ada disekitarnya, bahkan agroklimatologi yang ada disana. Harapannya dengan diselenggarakannya diskusi ini akan ada tindak lanjut dari Program Studi Agroteknologi UMY dan Program Studi Ilmu Pemerintah dalam sistem pengelolaan lahan terutama guna budidaya pertanian sehingga dapat terbentuk daur energi yang berkelanjutan (sustainable). “Sebagai aksi nyata dan harapan saya, semua yang hadir disini (red : diskusi umum) mulai saat ini ketika kita memakan sesuatu habiskan dan jangan sesekali menyisakan makanan karena daur energi itu membutuhkan waktu yang cukup lama” Tutup Dina Wahyu Trisnawati, S.P., M. Agr., Ph.D. (Muchtar)