Sistem pertanian yang sudah diterapkan oleh petani selama ini masih dinilai kurang ramah lingkungan. Pasalnya, para petani hanya peduli pada produk hasil pertanian, dan mengesampingkan dampak lingkungan yang terjadi akibat sistem pertanian yang mereka lakukan. Oleh karenanya, petani perlu mengubah pola pertanian tersebut.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., dalam ICOSA (International Conference on Sustainable Agriculture) menuturkan bahwa perubahan sistem pertanian harus lebih ramah lingkungan. Selaku pemateri dalam ICOSA yang diselenggarakan di Hotel Inna Garuda pada Selasa (17/01), Dr. Gunawan menjelaskan beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

“Pertama adalah cara membersihkan lahan pasca-panen. Petani Indonesia cenderung membakar lahan pasca-panen, dan sebelum melakukan penanaman tanaman baru. Sedangkan asap hasil pembakaran itu mengandung karbondioksida yang berpengaruh buruk bagi atmosfer. Sehingga seharusnya petani mulai mengubah pola pertanian mereka,” tegas Gunawan.

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan petani adalah penggunaan material pertanian. “Petani lokal harus memiliki cara khusus untuk menangani pola iklim yang baru dengan memanfaatkan berbagai sumber bahan organik dan mengurangi penggunaan pupuk sintetis, terutama pupuk yang memiliki kandungan nitrogen. Penggunaan rumah kaca juga harus dikurangi karena gas yang dihasilkan juga berdampak buruk pada lingkungan,” jelas Gunawan.

Gunawan menambahkan, penggunaan bahan organik dalam sistem pertanian, memiliki manfaat positif bagi kualitas tanah. Bahan organik yang digunakan, disebut Gunawan, selain untuk mengurangi kerentanan terhadap erosi tanah (erodibilitas tanah), juga dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi dan meningkatkan retensi air dalam tanah. Sehingga tanah akan tetap terjaga kesuburannya, dan berpengaruh pada kualitas produk pertanian yang dihasilkan.

Namun meski demikian, Gunawan mengungkapkan masih banyak tantangan untuk dapat mengubah cara tanam petani di Indonesia. “Meski sudah jelas keunggulannya, tetapi petani masih belum tentu mau berpindah ke organic agriculture. Banyak petani yang masih mengeluhkan soal biaya yang lebih tinggi dan proses yang mereka nilai lebih rumit. Namun kita tetap harus optimis untuk dapat mengubah cara tanam petani, karena di Indonesia masih banyak mahasiswa program studi Ilmu Pertanian, sehingga kedepannya Indonesia dapat mengatur keberlangsungan sistem pertanian kita,” tutup Gunawan.

Konferensi Internasional yang diselenggarakan hingga Rabu (18/1) ini juga turut menghadirkan narasumber dari beberapa universitas di luar negeri seperti Prof. Michael Theodorou (Harper Adams University, United Kingdom), Prof. Dr. Normah Mohd Noor (University Kebangsaan Malaysia), Dr. Sander de Vriez (Wageningen University, Netherland), Prof. Bhi Bremer (Otago University, New Zealand), dan Prof. Hironori Yasuda (Yamagata University, Japan).

Menurut Ketua Panitia ICOSA, Dina Wahyu Trisnawati, S.P. M.Agr., Ph.D., para peserta konferensi juga diajak untuk berdiskusi terkait eco farming dalam enam bidang, yakni Agro-Biotechnology, Plant Production, Plant Protection, Soil & Climate, Post-Harvest, dan Waste Management. “Dari diskusi tersebut, para peserta diharapkan memiliki strategi khusus untuk mengatasi masalah global change. Kemudian tujuan yang lain dari konferensi ini adalah scientist atau researcher Indonesia bisa membuat sebuah research baru yang sekiranya bisa mengatasi masalah-masalah yang muncul di dunia pertanian di Indonesia,” ungkap Dina.

Selain kuliah umum dan forum diskusi, agenda lain dalam ICOSA 2017 adalah poster presentation. Para peserta yang sebelumnya sudah membuat poster terkait tema yang dibahas, kemudian mempresentasikan lebih lanjut kepada peserta lainnya. Konferensi internasional ini juga diikuti oleh kurang lebih 200 peserta yang berasal dari Indonesia, Jepang, Filipina, Malaysia, Thailand, Iran, dan Nigeria. Para peserta juga tidak hanya dari kalangan mahasiswa yang umumnya mahasiswa S2 dan S3 saja, namun juga dari instansi penelitian dan profesional company di bidang pertanian.