Data Bulog pada september 2017 menunjukan bahwa target pengadaan sebanyak 3,2 juta ton setara beras, saat ini baru mencapai kurang lebih 2,1 juta ton. Pemerintah juga menyatakan di tahun 2016 angka konsumsi beras mencapai 139,15 kg perkapita pertahun, sedangkan prognosa Badan Ketahanan Pangan (BKP) 124,89 kg perkapita pertahun. Karena itulah, pemerintah Indonesia disarankan untuk melakukan investasi penelitian di bidang pertanian demi memenuhi kebutuhan pangan, yang setiap tahunnya hampir selalu melebihi perencanaan BKP.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Prof. Maurice S. B. Ku, Ph.D, dosen National Chiayi University, Taiwan saat memberikan Keynote Speechnya dalam kegiatan Visiting Professor bertajuk “Improving Export Seed Quality in Taiwan”, Selasa (12/12) di Gedung Siti Walidah UMY. Kegiatan Visiting Professor tersebut dilaksanakan oleh Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian UMY, dan berlangsung sejak Senin (11/12) hingga Selasa (19/12).

Dalam pemarapannya, Prof. Maurice mengatakan bahwa Indonesia masih membutuhkan banyak cadangan beras. Hal itu menurutnya terlihat dari aktivitas Indonesia yang masih melakukan impor beras dari Thailand beberapa tahun yang lalu. “Maka dari itu, pemerintah Indonesia sudah seharusnya melakukan investasi terhadap penelitian di bidang pertanian. Hal tersebut perlu dilakukan sehingga Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Maurice mengatakan bahwa salah satu cara yang tepat untuk diterapkan demi meningkatkan produksi beras di Indonesia adalah metode padi Hybrid. Hal ini mengacu kepada kondisi Tiongkok 20 tahun yang lalu. “Tiongkok 20 tahun yang lalu mengalami kekurangan pangan beras. Namun, setelah melakukan penelitian dan menggunakan padi Hybrid produksi beras meningkat begitu signifikan dalam 20 tahun terakhir dan saat ini 65 persen petani Tiongkok sudah menggunakan padi hybrid,” tuturnya

Namun menurutnya, Indonesia juga tidak bisa hanya melakukan impor bibit padi dari Tiongkok yang memang sudah terbukti berhasil. Karena tanah Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan Tiongkok. “Saya sudah pernah mencoba untuk membawa bibit padi Tiongkok ke Sumatra dan ternyata tidak membuahkan hasil. Maka kesimpulannya Indonesia harus melakukan penelitian dalam rangka menemukan padi Hybrid yang cocok dan baik. Karena dengan menggunakan padi Hybrid terbukti bisa meningkatkan produksi beras hingga angka 10 sampai 20 persen dari biasanya,” jelas Prof. Maurice lagi.

Selain dari persilangan dua jenis padi yang dapat menghasilkan produksi padi tinggi, menurut Prof. Maurice juga terdapat beberapa metode lain yang bisa dilakukan. Seperti melakukan mutasi genetik sehingga berpengaruh terhadap kondisi fisik padi. “Kami mencoba untuk membuat padi yang memiliki karakteristik daun tegak dan tidak merunduk sehingga akan meningkatkan jumlah tanaman padi perhektarnya. Selain itu sinar matahari juga akhirnya mampu mengenai seluruh wilayah tanaman sehingga hasilnyapun seharusnya meningkat,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Prof. Maurice juga menyampaikan tentang tips menyimpan benih yang baik sehingga tidak rusak dalam kurun waktu yang cukup lama. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah kelembapan, temperatur dan kadar oksigen dalam ruangan penyimpanan. “Temperatur ruangan setidaknya di bawah 4o C dan untuk Kelembapan pada angka 8 sampai 15 persen, sedangkan kadar oksigen harus rendah yaitu sekitar 10 persen,” ujarnya

Prof. Maurice juga menyampaikan bahwa untuk meyakinkan petani yang akan menggunakan teknologi ini cukup melakukan demonstrasi penanaman padi sebagai bukti nyata. “Untuk di Taiwan sendiri, perguruan tinggi meminta pemerintah untuk mendukung demonstrasi tersebut dan nyata berefek positif. Bahkan banyak pula petani yang akhirnya memutuskan untuk berkuliah, karena enggan menunggu datangnya sosialisasi. Jadi tidak heran jika petani di Taiwan sudah banyak yang bergelar S1,” tambahnya.

 

sumber: http://www.umy.ac.id/pemerintah-indonesia-disarankan-untuk-investasi-penelitian-demi-penuhi-kebutuhan-pangan.html