Program Kemitraan Masyarakat (PKM) merupakan program pengabdian masyarakat yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta guna mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. PKM ini dilaksanakan mulai dari 14 Februari – 25 Maret 2019. Adapun kegiatannya meliputi Pelatihan intensif dan pendampingan dalam mengembangkan Agensia Hayati Beauveria bassiana di Laboratorium Agrobioteknologi di Prodi Agroteknologi UMY dan Mini Laboratorium KPPAH Dadi Makmur di Dusun Jlegongan, Sayegan, Sleman.

Kamis (14/2), Ketua dan Anggota Kelompok Petani Pengembang Agensia Hayati (KPPAH) Dadi Makmur berkesempatan untuk belajar sekaligus praktik secara langsung dalam proses sterilisasi alat dan bahan untuk mengembangkan agensia hayati Beauveria bassiana. “Kami sangat tertarik dalam mengembangkan agensia hayati ini dikarenakan kami paham bahwa penggunaan pestisida sintetis sangat merugikan, baik itu bagi alamnya maupun kesehatan kami”, ungkap Bapak Tukimun selaku Ketua KPPAH Dadi Makmur. “Selain itu, kami merasakan dampak positif dalam penggunaan agensia hayati ini. Namun, kami mengalami kesulitan dalam pengembangannya terutama dalam hal penyediaan isolat awal (F1 atau F2) Beauveria bassiana-nya”, pungkas bapak Tukimun. Pertimbangan inilah yang mendasari diadakannya PKM ini guna meningkatkan kemandirian KPPAH Dadi Makmur sehingga tidak lagi ketergantungan terhadap pasokan F1 atau F2 yang selama ini dibeli dari LPHPT Pandak.
Dalam pembukaan acara pelatihan di laboratorium, Ir. Agung Astuti, M.Si. menjabarkan, “Sebelum kita belajar cara memproduksi jamur Beauveria bassiana, maka kita wajib mengetahui syarat-syarat utama dalam melakukan pengembangan dan perbanyakannya. Tahapan yang paling utama adalah sterilisasi, baik itu alatnya, bahannya, bahkan lingkungan dan personal yang akan melakukan kegiatan tersebut”. Pada pelatihan ini, anggota KPPAH Dadi Makmur diajarkan cara membuat media kultur untuk pembuatan aktivator (kultur F1 atau F2) Beauveria bassiana, cara sterilisasi menggunakan autoklaf dan panci bertekanan uap (pressure cooker). Menurut pemaparan Dr. Siti Nur Aisyah, “Pada dasarnya, produksi Beauveria bassiana mungkin untuk dilakukan di skala rumah tangga menggunakan bahan dan alat yang dapat dengan mudah diperoleh. Hanya saja, hal yang harus diperhatikan adalah alat-alat rumah tangga yang telah dimanfaatkan untuk kegiatan produksi agensia hayati ini, sebaiknya tidak lagi digunakan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya, seperti memasak makanan”. Proses produksi jamur Beauveria bassiana menggunakan dua jenis media, yakni media Potato Dextrose Agar (PDA) sebagai media perbanyakan aktivator (kultur F1 atau F2) dan media beras sebagai media pembiakan inokulum Beauveria bassiana.

Pada pelatihan laboratorium periode kedua pada hari Sabtu (16/2), KPPAH Dadi Makmur dilatih untuk dapat melakukan proses kultur isolat aktivator dan pembuatan inokulum Beauveria bassiana. Ir. Agung Astuti, M.Si. menyatakan “dalam proses inokulasi atau penanaman Beauveria bassiana, sterilitas ruangan harus diperhatikan. Kita dapat menyemprotkan alkohol diruangan yang akan kita gunakan untuk inokulasi sebelum kegiatan inokulasi tersebut dilakukan, baik di enkas maupun di LAFC. Selanjutnya, semua bahan dan alat dimasukkan ke dalam enkas tersebut lalu dinyalakan bunsennya. Selama proses inokulasi, pastikan agar tabung reaksi selalu berada dekat dengan api bunsen, lalu celupkan dan bakar jarum osenya hingga menyala sebanyak tiga kali. Ambil isolat murni menggunakan ose dan ratakan ke media PDA baru yang telah disiapkan, lalu berikan label pada media yang sudah diberi isolat murni tersebut”. “Proses pembiakan inokulum dilakukanmenggunakan media beras yang telah disterilkan dengan prosedur yang sama seperti pembiakan isolat murni”, papar Dr. Siti.

Sabtu (25/3), “inokulum Beauveria bassiana yang dibuat oleh anggota KPPAH Dadi Makmur selama pelatihan di Laboratorium Agrobioteknologi dan pendampingan di Mini Laboratorium KPPAH Dadi Makmur memperlihatkan tampilan hasil yang hampir sama dengan yang biasanya dihasilkan oleh laboratorium”, buka Ir. Agung Astuti, M.Si. Saat kegiatan pendampingan, anggota KPPAH juga diperkenalkan tentang pengujian bioassay dengan cara menyemprotkan Beauveria bassiana ke walang sangit. Dr. Siti Nur Aisyah, S.P. mengungkapakan, “Uji bioassay ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas Beauveria bassiana dalam menanggulangi hama ini (red: walang sangit). Jumlah hama yang mati diamati setiap hari diamati dan jika semua hama tersebut berhasil mati semua dalam kurun waktu satu minggu, itu artinya Beauveria bassiana yang Bapak dan Ibu buat ini benar-benar jos”. “Sebelum diaplikasikan, spora jamur yang tumbuh di media beras direndam dan diperas lalu disaring. Satu bungkus isolat Beauveria bassiana yang telah berspora ini dapat digunakan untuk menyemprot lahan sebanyak tiga tangki semprot ini”, papar Pak Tukimun. Berdasarkan hasil dari kegiatan ini, dapat disimpulkan bahwa pembuatan aktivator Beauveria bassiana juga dapat diupayakan di skala rumah tangga. Selama proses pelaksanaannya dipastikan terjaga sterilitasnya, maka kualitas aktivator dan inokulum yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang hampir sama dengan produksi laboratorium. Pemanfaatan panci bertekanan uap dapat menjadi alternatif pengganti autoklaf yang dapat digunakan dalam proses sterilisasi alat dan bahan. (Muchtar)