Dewasa ini, kita sudah sering mendengar istilah Revolusi Indsutri 4.0. Sebuah revolusi yang menggabungkan antara otomatisasi dengan teknologi cyber. Hal tersebut telah memengaruhi segala aspek kehidupan manusia, tak terkecuali di bidang bisnis dan agroteknologi.

Industri 4.0 telah memberi perubahan terhadap kehidupan manusia dengan segala konsekuensinya, yang berlaku kepada pelaku bisnis dengan harus memulai menerapkan Smart Business atau dengan kata lain segala aktifitas bisnisnya bersinggungan dengan internet. “Tapi kalau ingin menjalankan Smart Business kita membutuhkan real time data dan learning machine, untuk memetakan data dan mendapatkan jumlah sasaran yang benar sesuai kebutuhan pasar. Tidak kalah pentingnya, SDM juga perlu dibenahi untuk menunjang Smart Business,” ujar Dr. Jerome Soriana dari Tarlac Agricultural University, Philippines di depan mahasiswa Agroteknologi UMY dalam acara Guest Lecture di Gd E7 B Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, Kamis (24/10).

Dalam acara yang bertajuk Economic, Social and Business: Revolution 4.0, Industry vs Agriculture in a future of Agro Industry Development, Jerome menegaskan ada beberapa teknik yang bisa dikembang pada sektor pertanian untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. “Pada sektor ini kita bisa mengambil contoh penggunaan Drone, Hidroponik, Alga, Bioplastik yang diolah dari limbah jagung dan tebu, GMO (Genetically Modified Organism), 3D Printing in Agriculture, Cloud Storage and GPS, dan Nano Technology. Semua itu sedang dikembangkan di Filipina,” imbuhnya.

Kekhawatiran yang muncul ketika inovasi teknologi semakin canggih adalah ketakutan akan pergantian peran manusia ke robotic. Namun menurut Jerome kekhawatiran itu tidak perlu ada, karena selama seseorang memiliki skill maka akan bermanfaat. “Ambil contoh saja penggunaan drone dalam bidang pertanian, tentu robot itu tidak akan bekerja sendiri tanpa bantuan manusia. Jadi dalam hal ini, robotic adalah bersifat membantu mempermudah pekerjaan manusia bukan untuk menggantikan.”

Tapi bagaimanakah mengembangkan pertanian yang berkelanjutan? Pertanyaan ini dapat terjawab dengan pengembangan inovasi yang sesuai dengan era sekarang yang serba digital. Bagi mahasiswa yang saat ini berperan sebagai future Agriculture harus mengembangkan inovasi tersebut, seperti harapan yang disampaikan dosen Agroteknologi Genesiska S.Si., M. Sc. Terlebih menurutnya Indonesia sendiri belum sampai pada tahap berhasil menerapkan revolusi Industri 4.0 di bidang pertanian.

“Sebagai mahasiswa atau generasi muda perlu mengembangkan dan mendalami penelitian secara mendetail, kita tidak bisa hanya belajar tentang IT saja. Melainkan harus paham betul tentang penelitian mendalam di bidang pertanian sehingga bisa menjadi bagian dalam pembangungan pertanian berkelanjutan untuk Indonesia. Saya juga menghimbau mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan interconnection, jadi tidak hanya paham teori tetapi juga praktik di lapangan seperti misalnya terjun ke bisnis maupun pertanian,” tutup Genesiska. (Hbb)