Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Minggu (6/11) melakukan penanaman Mangrove di area pantai Baros, Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Bantul, Yogyakarta. Acara tersebut diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta alumni prodi Agroteknologi UMY. Acara ini juga terselenggara berkat kerjasama Agriculture Training Center (ATC), Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (Himagro), dan alumni prodi Agroteknologi UMY.

Melalui rilis yang diterima Biro Humas UMY pada Selasa (8/11), dijelaskan bahwa acara penanaman Mangrove tersebut selain bertujuan untuk memperat tali silaturrahim, juga sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap masa depan dan pengabdian kepada masyarakat. Acara yang dibuka oleh Ketua Prodi Agroteknologi, Dr. Innaka Ageng Rineksane, S.P., M.P yang dilanjutkan dengan pemberian materi tentang lingkungan oleh Sekjen Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Dr. Ir. Gatot Supangkat, M.P, juga dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Edi Susanto.

Dalam sambutannya, Edi Susanto mengapresiasi kepedulian mahasiswa Agroteknologi UMY yang sudah mau membantu menjaga bumi dan lingkungan, dengan ikut menanam tanaman Mangrove tersebut. Edi juga mengungkapkan terima kasihnya kepada masyarakat khususnya civitas akademika Agroteknologi UMY yang telah membantu mengembangkan potensi wisata di Pantai Baros. Selain itu, Edi juga memaparkan master plann mengenai pembangunan Edukasi Mangrove di Dusun Baros, sehingga pariwisata Bantul semakin maju dan berkembang.

Selain kegiatan penanaman Mangrove, kegiatan lainnya juga dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat setempat, seperti pemungutan sampah di area pantai Baros yang dikelompokkan menjadi tiga bagian, kelompok sampah plastik, sampah kayu dan sampah sandal. Hasil dari pengambilan sampah tersebut kemudian diberikan kepada pemuda Baros untuk diolah menjadi kerajinan tangan.

Menurut salah seorang pemuda Baros, Dwi, sampah-sampah yang berada di wilayah pinggiran pantai merupakan sampah yang terbawa air laut hingga ke area pantai. Hal itu tentunya sangat mengganggu pemandangan dan lingkungan khususnya di area yang akan dijadikan Edukasi Mangrove. “Karena itulah kami harus memunguti sampah-sampah tersebut untuk kemudian diolah menjadi sebuah kerajinan yang bernilai jual tinggi. Kerajinan yang biasa kami buat biasanya berasal dari limbah kayu laut,” ungkapnya.

Dwi juga mengakui dirinya bersama pemuda desa lainnya juga sudah lama mengolah sampah kayu laut untuk dijadikan kerajinan, yang kemudian dijual baik di wilayah domestik maupun mancanegara melalui jual beli online. “Hingga saat ini, sampah yang bisa kami kelola baru sampah kayu laut. Sedangkan sampah plastik dan sandal belum dapat diolah, karena keterbatasan sumberdaya manusia. Kami berharap ke depannya bisa menjalin kerjasama dengan berbagai pihak atau instansi, agar permasalahan sampah laut ini dapat diatasi bersama,” ujarnya.*